NES sang Penyelamat industri game Amerika, lalu indonesia?
Hancurnya industri
Kembali pada tahun 1984, industri video game amerika diambang kehancuran, banyak
perusahaan video game di Amerika yang berpikir untuk gulung tikar. Hal ini dikarenakan kualitas game yang makin buruk ditambah dengan makin sukses dan populernya Personal Computer. Hal ini diperparah dengan adanya rumor Atari Landfill, dimana Atari harus membuang semua cartridge game yang tidak terjual ke salah satu daerah di Meksiko. Dari era kehancuran itu hanya dua perusahaan yang masih serius menjual konsol video game, yaitu INTV (yang sebelumnya dimiliki Intellivision) dan perusahaan jepang bernama Nintendo. Nintendo sendiri pada awal tahun 80-an telah merilis FAMICOM (FAMIly COMputer) di jepang, dan telah sukes menjual produk tersebut sekitar 2.5 juta unit. Setelah Nintendo gagal bernegoisasi untuk bekerja sama dengan Atari agar Atari dapat menjual FAMICOM di amerika, akhirnya Nintendo memutuskan untuk merilis game ini sendiri.
Geliat Nintendo
Permasalahan utama dalam menjual FAMICOM adalah para retailer amerika yang ragu untuk men-stok barang tersebut dikarenakan kondisi pasar video game yang tidak baik. Karena alasan itu Nintendo memasarkan pada retailer seakan FAMICOM lebih menyerupai computer atau VCR. Dan bahkan mereka menamakan FAMICOM menjadi Nintendo Entertainment System juga didisain fisik hardwarenya menjauhi bentuk konsol aslinya ataupun konsol videogame pada masa itu, bahkan Nintendo setuju untuk membeli kembali produk NES dari retailer jika tidak laku dijual. Hingga akhirnya pada tahun 1986 Nintendo Entertainment System di rilis di Amerika. NES memiliki 2 jenis bundle pada awal peluncurannya, yang pertama seharga 249 dollar dengan tambahan robot R.O.B. (Robotic Operating Buddy) unit, dua kontroller, pistol, Gytomite, Game Duck Hunt dan Super Mario Bros. Diisukan bahwa penjualan yang dibundle dengan robot R.O.B. merupakan salah satu pendekatan Nintendo pada calon pembeli atau retailer bahwa Nintendo Entertainment System adalah mainan bukan konsol game. Sedangkan bundle kedua dengan harga 199 dollar hanya memiliki 2 kontroller dengan tambahan game Super Mario Bros.
Nintendo Sukses??
Nintendo juga telah belajar dari kesalahan masa lampau pada industri video game, dimana bertebaran game kualitas rendah sehingga hilang kepercayaan konsumen pada Video Game. Dengan alasan itu Nintendo melakukan sistem lisensi yang ketat kepada third party developer yang ingin menjual gamenya pada konsol Nintendo. Dengan semua strategi yang dilakukan akhirnya Nintendo sukses dan memiliki penjualan konsol jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pesaingnya yang saat itu adalah INTV, Sega Master System dan Atari 7800. Akhirnya Nintendo dapat meningkatkan kembali gairah Industri Game Amerika, dan bisa dibilang telah menyelamatkan industri Video Game yang telah mendunia pada saat ini.
Indonesia??
Di Indonesia sendiri, konsol semakin sukses seiring dengan lahirnya kaset bajakan. Komunitas pun mulai terbentuk sehingga pengguna konsol game makin ramai. Terlebih di era emas playstation 2, dimana bajakan makin meluas warnet PlayStation pun makin berjamur. Tapi dampak pada industri game di Indonesia masih pasif, masyarakat kita hanyalah sebagai penikmat dengan sedikit campur tangan dalam berkreasi. Saya sebelumnya sempat bertemu dengan salah satu musisi Eko Ramaditya Adikara yang pernah berperan dalam pembuatan lagu Final Fantasy, dan memujinya karena kekurangan fisiknya yang tak bisa melihat.
Wujud Nyata Industri Game Indonesia
Namun saya pribadi merasa bahwa Ragnarok Online lah pembuka jalan dari semakin besarnya industri game di Indonesia yang tak lagi sebagai pembeli tapi juga sebagai publisher (LYTO, dll). Memang ada sebelumnya nexia atau game online lainnya. Tapi game inilah yang berdampak besar sehingga banyak perusahaan lain yang mengikuti jejak LYTO. Sempat pula dilaksanakan Game Developer Gathering yang dimoderasi kukuhtw pada tahun 2007 disana saya mengenal banyak individu yang berhasil atau mencoba masuk ke Industri Game Indonesia dan bahkan dunia. Seperti Sangkuriang studio dengan Nusantara Online, Max Studio dengan pasar game HP berbasis java, dan banyak lagi.
Industri game HP pun juga makin menggeliat di Indonesia. Kalau ditanya apakah pernah ada di Indonesia dimana sebuah game diiklankan di Televisi? Jawabannya ada, game tersebut adalah game besutan gameloft yang di tentunya bisa diakses dengan mengetik REG “sesuatu” ke “sebuah nomor”. Saya pribadi tidak tahu apakah game yang diedarkan itu legal, tapi dengan banyaknya HP yang dipakai di Indonesia gak aneh semakin besar pesar yang ada. Tidak aneh jika sarana game HP bisa jadi sarana iklan juga (seperti Ungu: Goes To Concert oleh Max Studio).
Kini game kasual mulai masuk dan sukses di Indonesia, saya bukan membicarakan Wii atau game kasual Pop Cap yang dilihat dari sisi Industri Indonesia sulit berkembang karena ada versi bajakan (Saya sadar kok kesuksesan Menara Games dengan game burgernya, tapi kesuksesannya di Industri International bukan Indonesia secara spesifik). Yang saya maksud adalah game online yang mulai mengarah kasual dengan suksesnya AyoDance. Makin berjamur game kasual dengan sistem Item Mall, bahkan game-game yang awalnya harus dinikmati dengan biaya bulanan (atau mingguan bahkan jam-an) kini mulai mengadopsi sistem item mall agar menarik banyak pemain. Mari kita lihat terus industri game tanah air di Indonesia, semoga kita tidak terus dicekoki game asing dan kita bisa juga berkreasi di dalam negri.
(dari berbagai sumber dan pengalaman)







Leave a Reply