Yang perlu anda ketahui tentang Imunisasi

By
 divi
divi on January 14th, 2009
Apa yang seharusnya diketahui oleh setiap keluarga dan masyarakat mengenai imunisasi. Tanpa Imunisasi, Kira-kira 3 dari 100 kelahiran anak akan meninggal karena penyakit campak. 2 dari 100 kelahiran anak akan meninggal karena batuk rejan. 1 dari 100 kelahiran anak akan meninggal karena penyakit tetanus. Dan dari setiap 200.000 anak, 1 akan menderita penyakit polio. Imunisasi yang dilakukan dengan memberikan vaksin tertentu akan melindungi anak terhadap penyakir-penyakit tertentu. Walaupun pada saat ini fasilitas pelayanan untuk vaksinasi ini telah tersedia di masyarakat, tetapi tidak semua bayi telah dibawa untuk mendapatkan imunisasi yang lengkap. Bilamana fasilitas pelayanan kesehatan tidak dapat memberikan Imunisasi dengan pertimbangan tertentu, orang tua dapat menghubungi seseorang Dokter (Dokter Spesialis Anak) untuk mendapatkannya.

Tujuan Imunisasi:
Untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar dapat mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang sering berjangkit.

Manfaat Imunisasi:

  1. Untuk Anak: mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau kematian.
  2. Untuk Keluarga: menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman.
  3. Untuk Negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara.

Perlukah Imunisasi ulang ?
Imunisasi perlu diulang untuk mempertahankan agar kekebalan dapat tetap melindungi terhadap paparan bibit penyakit.

Dimana mendapatkan imunisasi?

  1. Di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).
  2. Di Puskesmas, Rumah Sakit Bersalin, BKIA atau Rumah Sakit Pemerintah.
  3. Di Praktek Dokter/Bidan atau Rumah Sakit Swasta


Apakah Imunisasi Difteri, Pertusis (Batuk Rejan), Tetanus (DPT) dapat diberikan bersama-sama Imunisasi polio?

Imunisasi DPTdan polio dapat diberikan bersamaan waktunya.

Apa saja efek samping Imunisasi?

Imunisasi kadang dapat mengakibatkan efek samping. Ini adalah tanda baik yan membuktikan bahwa vaksin betuk-betul bekerja secara tepat. Efek samping yang biasa terjadi adalah sebaagai berikut:

BCG

Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan merah ditempat suntikan. Setelah 2 – 3 minggu kemudian pembengkakan menjadi abses kecil dan kemudian menjadi luka dengan garis tengah
± 10 mm. Luka akan sembuh sendiri dengan meninggalkan luka parut yang kecil.

DPT

Kebanyakan bayi menderita panas pada waktu sore hari setelah mendapatkan imunisasi DPT, tetapi panas akan turun dan hilang dalam waktu 2 hari. Sebagian besar merasa nyeri, sakit, merah atau
bengkak di tempat suntikan. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak perlu mendapatkan pengobatan khusus, akan sembuh sendiri. Bila gejala tersebut tidak timbul tidak perlu diragukan bahwa imunisasi tersebut tidak memberikan perlindungan dan Imunisasi tidak perlu diulang.

POLIO

Jarang timbuk efek samping.

CAMPAK

Anak mungkin panas, kadang disertai dengan kemerahan 4 – 10 hari sesudah penyuntikan.

HEPATITIS:

Belum pernah dilaporkan adanya efek samping. Perlukah pemerikasaan darah sebelum pemberian Imunisasi Hepatitis? Untuk bayi berumur lebih dari 1 tahun seyogyanya dilakukan pemerikasaan darah.

TETANUS TOXOID

Efek samping TT untuk ibu hamil tidak ada. Perlu diingat efek samping imunisasi jauh lebih ringan dari pada efek penyakit bila bayi tidak diimunisasi.

Untuk apakah Imunisasi ini ?
Kelompok yang paling penting untuk mendapatkan Imunisasi Imunisasi adalah bayi dan balita karena meraka yang paling peka terhadap penyakit dan ibu-ibu hamil serta wanita usia subur.

Apakah Imunisasi Dasar dan beberapa kali diberikan ?
Imunisasi Dasar diberikan untuk mendapat kekebalan awal secara aktif. Kekebalan Imunisasi Dasar perlu diulang pada DPT, Polio, Hepatitis agar dapat melindungi dari paparan penyakit. Pemberian Imunisasi Dasar pada Campak, BCG, tidak perlu diulang karena kekebalan yang diperoleh dapat melindungi dari paparan bibit penyakit dalam waktu cukup lama.

sumber gambar: http://www.indosiar.com/

Popularity: 3% [?]

deteksi dini Kanker Serviks Atau Kanker Leher rahim sangat penting

By
 divi
divi on September 12th, 2008

believe it or not, kanker serviks ternyata salah satu penyebab kematian yang paling tinggi di dunia akibat kanker.

akhir – akhir ini banyak sekali perusahaan MLM yang memanfaatkan kegegeran ini, dimana para wanita sedang binggung dan khawatir bahwa penyakit ini juga dapat menyerang mereka, dengan menjual produk2 tertentu. salah satunya adalah produk pembalut wanita, dimana mereka mengaku dapat mengurangi keputihan dan memiliki alat untuk mendeteksi kanker serviks tanpa melakukan papsmear. masalah pembalut yang dapat mencegah keputihan, menurut saya lebih tergantung dari higienis dari individu itu sendiri. bisa iya , bisa tidak apakah produk merekadapat mencegah keputihan. sedangkan untuk pemeriksaan dini kanker serviks sendiri, hanya dapat dilakukan dengan tes papsmear. maka dari itu sangat dianjurkan untuk para wanita yang sudah aktif secara seksual untuk melakukan papsmear minimal 1 kali /2 tahun untuk mengetahui dari dini tentang adanya kanker serviks. karena angka kemungkinan hidup pada pasien kanker serviks stadium dini sangatlah tinggi, dibandingkan dengan yang sudah stadium lanjut.

kekhawatiran bukan karena penjualan pembalut itu, tetapi informasi salah yang di berikan dari para penjual, ditakutkan para wanita tak lagi maw melakukan pemeriksaan papsmear.

Layaknya semua kanker, kanker leher rahim terjadi ditandai dengan adanya pertumbuhan sel-sel pada leher rahim yang tidak lazim (abnormal). Tetapi sebelum sel-sel tersebut menjadi sel-sel kanker, terjadi beberapa perubahan yang dialami oleh sel-sel tersebut. Perubahan sel-sel tersebut biasanya memakan waktu sampai bertahun-tahun sebelum sel-sel tadi berubah menjadi sel-sel kanker. Selama jeda tersebut, pengobatan yang tepat akan segera dapat menghentikan sel-sel yang abnormal tersebut sebelum berubah menjadi sel kanker. Sel-sel yang abnormal tersebut dapat dideteksi kehadirannya dengan suatu test yang disebut “Pap smear test“, sehingga semakin dini sel-sel abnormal tadi terdeteksi, semakin rendahlah resiko seseorang menderita kanker leher rahim.
Memang Pap smear test adalah suatu test yang aman dan murah dan telah dipakai bertahun-tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim. Test ini ditemukan pertama kali oleh Dr. George Papanicolou, sehingga dinamakan Pap smear test. Pap smear test adalah suatu metode pemeriksaan sel-sel yang diambil dari leher rahim dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi dari sel tersebut. Perubahan sel-sel leher rahim yang terdeteksi secara dini akan memungkinkan beberapa tindakan pengobatan diambil sebelum sel-sel tersebut dapat berkembang menjadi sel kanker.
Test ini hanya memerlukan waktu beberapa menit saja. Dalam keadaan berbaring terlentang, sebuah alat yang dinamakan spekulum akan dimasukan kedalam liang senggama. Alat ini berfungsi untuk membuka dan menahan dinding vagina supaya tetap terbuka, sehingga memungkinkan pandangan yang bebas dan leher rahim terlihat dengan jelas. Sel-sel leher rahim kemudian diambil dengan cara mengusap leher rahim dengan sebuah alat yang dinamakan spatula, suatu alat yang menyerupai tangkai pada es krim, dan usapan tersebut dioleskan pada obyek-glass, dan kemudian dikirim ke laboratorium patologi untuk pemeriksaan yang lebih teliti.
Prosedur pemeriksaan Pap smear test mungkin sangat tidak menyenangkan untuk anda, tetapi tidak akan menimbulkan rasa sakit. Mungkin anda lebih memilih dokter wanita untuk prosedur ini, tetapi pada umumnya para dokter umum dan klinik Keluarga Berencana dapat dimintai bantuan untuk pemeriksaan Pap smear test. Usahakanlah melakukan Pap smear test ini pada waktu seminggu atau dua minggu setelah berakhirnya masa menstruasi anda. Jika anda sudah mati haid, Pap smear test dapat anda lakukan kapan saja. Tetapi jika kandung rahim dan leher rahim telah diangkat atau dioperasi (hysterectomy atau operasi pengangkatan kandung rahim dan leher rahim), anda tidak perlu lagi melakukan Pap smear test karena anda sudah terbebas dari resiko menderita kanker leher rahim. Pap smear test biasanya dilakukan setiap dua tahun sekali, dan lebih baik dilakukan secara teratur. Hal yang harus selalu diingat adalah tidak ada kata terlambat untuk melakukan Pap smear test. Pap smear test selalu diperlukan biarpun anda tidak lagi melakukan aktifitas seksual.

sumber : http://dokter.indo.net.id/serviks.html

kanker serviks itu sendiri, menurut buku2 yang saya baca di sebabkan oleh virus HPV ( Human Papiloma Virus) yang menular lewat hubungan seksual. Seorang wanita bisa terinfeksi virus ini pada usia belasan tahun dan baru diketahui mengidap kanker 20 atau 30 tahun kemudian setelah infeksi kanker menyebar. Umumnya wanita paruh baya berusia 40 tahun yang menderita kanker leher rahim.

berikut faktor resiko terjangkitnya kanker serviks :

FAKTOR RESIKO Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks, antara lain
adalah :

1. Hubungan seks pada usia muda atau pernikahan pada usia muda
Faktor ini merupakan faktor risiko utama. Semakin muda seorang perempuan melakukan hubungan seks, semakin besar risikonya untuk terkena kanker serviks. Berdasarkan penelitian para ahli, perempuan yang melakukan hubungan seks pada usia kurang dari 17 tahun mempunyai resiko 3 kali lebih besar daripada yang menikah pada usia lebih dari 20 tahun.
2. Berganti-ganti pasangan seksual
Perilaku seksual berupa gonta-ganti pasangan seks akan meningkatkan penularan penyakit kelamin. Penyakit yang ditularkan seperti infeksi human papilloma virus (HPV) telah terbukti dapat meningkatkan timbulnya kanker serviks, penis dan vulva. Resiko terkena kanker serviks menjadi 10 kali lipat pada wanita yang mempunyai partner seksual 6 orang atau lebih. Di samping itu, virus herpes simpleks tipe-2 dapat menjadi faktor pendamping.
3. Merokok
Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Penelitian menunjukkan, lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang ada di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan menurunkan daya tahan serviks di samping meropakan ko-karsinogen infeksi virus.
4. Defisiensi zat gizi
Ada beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa defisiensi asam folat dapat meningkatkan risiko terjadinya displasia ringan dan sedang, serta mungkin juga meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks pada wanita yang makanannya rendah beta karoten dan retinol (vitamin A).
5. Trauma kronis pada serviks seperti persalinan, infeksi, dan iritasi menahun

MENGENALI TANDA-TANDA

Pada fase prakanker, sering tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas. Namun, kadang bisa ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :

1. Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina.
2. Perdarahan setelah sanggama yang kemudian berlanjut menjadi perdarahan yang abnormal.
3. Timbulnya perdarahan setelah masa menopause
4. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat bercampur dengan darah.
5. Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi perdarahan kronis.
6. Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang panggul. Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan terjadi hidronefrosis. Selain itu, bisa juga timbul nyeri di tempat-tempat lainnya.
7. Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, edema kaki, timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rectum), terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal, atau timbul gejala-gejala akibat metastasis jauh.

Seperti layaknya kanker, jenis kanker ini juga dapat mengalami penyebaran (metastasis). Penyebaran kanker serviks ada tiga macam, yaitu :

1 Melalui pembuluh limfe (limfogen) menuju ke kelenjar getah bening lainnya.
2 Melalui pembuluh darah (hematogen)
3 Penyebaran langsung ke parametrium, korpus uterus, vagina, kandung kencing dan rectum.

Penyebaran jauh melalui pembuluh darah dan pembuluh limfe terutama ke paru-paru, kelenjar getah bening mediastinum dan supraklavikuler, tulang dan hati. Penyebaran ke paru-paru menimbulkan gejala batuk, batuk darah, dan kadang-kadang nyeri dada. Kadang disertai pembesaran kelenjar getah bening supraklavikula terutama sebelah kiri.

sumber : http://seksfile.wordpress.com/2007/05/27/kanker-leher-rahim-bisa-dicegah/

sedangkan di luar negeri, penyakit ini sudah jarang ditemui karena proses skreening yang baik

Sementara di negara maju, kanker serviks sudah mengalami penurunan berkat program deteksi dini melalui pap smear. Metode itu berhasil menurunkan tingkat kematian hingga 50%. ”Seperti diketahui, kanker umumnya bisa diobati dengan lebih mudah dan tuntas jika diketahui pada stadium dini,” ujarnya.

sumber : http://situs.kesrepro.info/aging/jun/2005/ag01.htm

dan kini telah di temukan vaksin yang dapat mencegah Kanker serviks, tapi harga per dosisnya masih sangat lah mahal, yang mencapai 1 juta/ 1 kali suntik. tapi lebih baik mencegah bukan dari pada mengobati, dimana akan jauh lebih mahal.

Dengan berkembangnya ilmu kedokteran, banyak ditemukan vaksin baru, yang dapat mencegah beberapa penyakit. Slah satunya GardasilTM Quadrivalent Human Papilloma Virus (tipe 6,11,16,18), vaksin rekomendasi untuk mencegah kanker serviks. Menurut Dr. dr. Laila Nuranna, SpOG(K), vaksin HPV (Human Papilloma Virus) merupakan terobosan baru dalam usaha mencegah kanker serviks serta penyakit yang berhubungan dengan HPV. Percobaan klinis pada remaja dan wanita muda, vaksin HPV Quadrivalent terbukti efektif melawan penyakit-penyakit HPV. Vaksin ini 100% efektif melawan pre-kanker serviks.

sumber : http://www.pjnhk.go.id/content/view/296/31/

so, para wanita, ayo cegah kanker serviks dengan pemeriksaan teratur ke dokter kandungan, jangan pergi kesana saat hamil dan sakit saja ya!!!! ketahui dirimu dan cegah penyakit ini bersama2!

sumber flash: irawibowo.com

Popularity: 5% [?]

Pembunuhan Mutilasi, Trend?

By
 divi
divi on July 24th, 2008

satu minggu ini, jakarta sempat di heboh setelah di ketemukan mayat yang di mutilasi, dipotong 7 bagian didalam koper dan tas. korban ini ditemukan 500 meter dari jalan raya di daerah pasar minggu. setelah ditelusuri ternyata korban di bunuh oleh seorang gay bernama Ryan. gak taw kenapa setelah ditelusuri lagi, ditemukan 4 mayat dikubur dibelakang rumahnya. pelaku mengaku membunuh korban karena menolak di ajak menikah dengan dia. diduga korbannya lebih banyak dari itu. sosok ryan ini tampak tenang dan seperti merasa tidak bersalah. pada saat olah tkp di rumahnya, dia dengan tenang menggungkapkan kronologis pembunuhan tersebut. barusan liat di tv tenyata di ketemukan korban lain di halaman rumah org tua ryan , diketemukan korban lain yang di potong2 juga.

kasus mutilasi sebenernya bukan lah kasus yang baru, sejak lama diketemukan. sewaktu gw koass di forensik RSCM , gw pernah menemukan korban mutilasi, dimana cuman diketemukan kaki kanan ajadi bentaran pinggiran kali ciliwung.

di indonesia sendiri akhir2 ini sudah banyak sekali diketemukan pembunuhan yang di mutilasi. motifnya bisa bermacam2 bisa saja karena dendam, untuk mempermudah transportasi atau juga untuk mencoba menghilangkan jejak bisa juga karena untuk menutupi identitas korban.

gak habis pikir untuk memotong2 orang apalagi menurut dr. munim SpF , korban mutilasi ryan itu masih hidup pada saat di potong. serem bgt!!!!

sumber gambar: www.cartoonstock.com

Popularity: 2% [?]

Pertanyaan yang Lazim Dilontarkan kepada Mahasiswa Kedokteran

By
 divi
divi on July 10th, 2008

ImageShack

disini divi mau share artikel yang menarik yang divi baca

7 tahun kuliah di fakultas kedokteran, Selama itu pula banyak pertanyaan yang dilontarkan kepada penulis, dan kepada semua mahasiswa kedokteran secara umum, dari orang-orang yang mungkin maksudnya basa-basi untuk membuka pembicaraan atau memang sebagai pertanyaan serius.

Pertanyaan seputar perkuliahan kedokteran ini dapat saja dilontarkan dari sanak saudara, teman-teman yang tidak berkuliah di fakultas kedokteran atau total stranger yang mengajak pembaca untuk ngobrol. Biasanya semua pertanyaan dan dialog ini diawali dengan pertanyaan, “Mbak/mas ini kuliah di mana ya?” dan setelah itu serentetan pertanyaan klise pun mulai digulirkan.

Para tulisan kali ini, penulis merangkum 10 pertanyaan yang pernah dilontarkan, paling tidak, kepada penulis dan berusaha memberikan penjelasan jawaban yang lazim.

Demikian diharapkan kepada para pembaca kaum sipil (nonfakultas kedokteran) dapat menemukan jawabannya dalam tulisan ini sehingga untuk kesempatan tatap muka berikutnya dengan seorang mahasiswa kedokteran, tidak perlulah lagi basa-basi dengan bertanya mengenai kehidupan kami sebagai mahasiswa kedokteran yang penuh kesibukan, romantika dan misteri ini.

“Kuliah di kedokteran? Pintar dong”
Pertanyaan ini biasanya didahului oleh jawaban “di kedokteran (masukkan nama universitas),” terhadap pertanyaan paling dasar, “kuliah di mana?”. Menurut pengalaman penulis, pertanyaan ini tergolong retorik dan sangat basa-basi karena pada kenyataannya tiada gading yang tak retak. Berkuliah di kedokteran bukan berarti orang tersebut pintar, mengingat definisi pintar itu luas sekali dan tidak semua orang pintar laik untuk berkuliah di kedokteran. Lagipula, dapat saja seseorang mengaku-ngaku berkuliah di fakultas kedokteran seperti pengalaman dari seorang narasumber, entah biar dianggap pintar atau berguna.

“Kuliah di kedokteran? Lama dong”
Lagi-lagi pertanyaan berupa pernyataan yang retorik dan menyiksa sanubari si tertanya. Semua orang terdidik sudah tahu bahwa kuliah kedokteran tergolong lama dibandingkan jurusan lain. Penulis tidak mengerti apa yang penanya harapkan dari si tertanya atas pertanyaan berupa pernyataan ini, apakah harus kesal, sumringah atau harus menampar penanya.

Bentuk pertanyaan serupa yang menyinggung lama perkuliahan seperti yang biasa dilontarkan kepada mahasiswa laki-laki, “kapan nikahnya?”. Sekali lagi ini pertanyaan ini menimbulkan pemikiran mengenai apa pentingnya pertanyaan ini. Apakah si penanya bermaksud mencarikan jodoh bagi si tertanya atau si penanya sedang bercermin kepada diri sendiri mengenai betapa lamanya pendidikan kedokteran, yang pasti ini merupakan pertanyaan retorik dan punya urusan apa si penanya bertanya mengenai hal pribadi macam ini.

“Sudah semester berapa?”
Sebenarnya pertanyaan ini tidak hanya dilontarkan kepada mahasiswa kedokteran saja, sehingga menurut penulis pertanyaan ini paling terkesan basa-basi.

Berbeda dengan nonfakultas kedokteran, FKUI termasuk dalam perkuliahan yang telah terjadwal tiap tahunnya, bukan tiap semesternya. Tiap tahun akan dijadwalkan mata kuliah yang pasti wajib diambil mahasiswa persetan dengan jumlah SKS-nya yang rerata per tahun adalah 48 SKS. Tidak ada semester pendek untuk perbaikan nilai dan “menyodok” agar cepat lulus. Hal serupa juga ditemukan pada fakultas kedokteran universitas lain.

Singkatnya, jadwal kuliah telah disusun untuk setahun dan cukup berbeda dibandingkan fakultas lain. Biasanya mata kuliah ini berjalan tidak secara paralel, misalnya mata kuliah B baru akan dimulai setelah mata kuliah A selesai. Pula tidak jarang satu mata kuliah masih berlangsung dalam 2 semester yang berbeda, misalnya mata kuliah C selama 12 minggu yang dilaksanakan pada akhir semester gasal dan selesai pada pertengahan semester genap, sehingga kadang tidak disertai libur antarsemester.

Mahasiswa kedokteran tentu akan malas menjawab mereka sudah kuliah di semester berapa, selain karena pendidikan kedokteran yang memakan waktu antara 5,5 – 6 tahun sehingga akan merepotkan bila dikonversi ke bentuk semester, juga karena rotasi mata kuliah itu sendiri dijadwalkan tidak dibagi per semester melainkan per tahun penuh.

Pelontar pertanyaan ini juga dapat dianggap sebagai orang yang tidak mengerti keadaan di fakultas kedokteran dan patut dimaklumi keawamannya. Walau demikian penulis menghargai mayoritas alumnus UI dari fakultas manapun karena mengetahui fakultas kedokteran, terutama FKUI, menjalankan sistem tahun, bukan semester sehingga pertanyaan basa-basi mereka menjadi, “Sudah kuliah tahun ke berapa?”

“Ambil jurusan apa?”
Karena pertanyaan ini sering timbul setelah pertanyaan, “Kuliah di mana?” atau “Fakultas apa?”, penulis sangat prihatin dan bingung dengan pertanyaan ini karena entah apa yang dipikirkan penanya sebelum menanyakan pertanyaan ini.

Sepertinya hampir semua orang terdidik mengerti bahwa pendidikan dokter umum rerata terdiri atas 4 tahun pendidikan sarjana kedokteran (S.Ked) dilanjutkan 2 tahun pendidikan profesi dokter untuk menjadi dokter umum (dr.) tanpa ada penjurusan karena ini adalah pendidikan dokter umum. Lantas apa yang mereka maksud dengan jurusan pada fakultas kedokteran? Memang di fakultas lain memiliki berbagai penjurusan dan peminatan, tetapi dalam konteks kuliah kedokteran, pertanyaan ini sangat amat menempatkan si penanya benar-benar sekadar basa-basi tidak peduli dengan jawabannya… dan terkesan bodoh.

“Ambil spesialis/spesialisasi apa?”
Pertanyaan ini merupakan usaha yang bagus untuk memperhalus kebodohan dalam berbasa-basi dibandingkan menanyakan jurusan kuliah tetapi perlu diketahui jenjang-jenjang pendidikan dokter seperti dijelaskan di atas. Untuk menjadi dokter spesialis, perlu lulus dokter umum dulu dan itu pun baru boleh setelah mengikuti berbagai prosedur misalnya mengikuti program pegawai tak tetap (PTT) sebagai dokter puskesmas di daerah-daerah atau di rumah sakit umum daerah.

Pertanyaan ini juga dilontarkan oleh orang-orang yang mengerti dengan kehidupan mahasiswa kedokteran terutama bagi mereka yang lebih menghargai eksistensi dokter spesialis dibandingkan dokter umum yang sebenarnya merupakan lini pertama dalam usaha kesehatan masyarakat.

Tetapi pertanyaan ini tentu saja aplikatif kepada mahasiswa pendidikan dokter spesialis sehingga penulis yang masih dalam pendidikan dokter umum, tidak berkompeten untuk menjabarkan pengalaman seputar hal ini.

“Berapa IP-nya?”
Sekali lagi, pertanyaan seputar Indeks Prestasi (IP) merupakan pertanyaan tidak penting dan sekadar basa-basi yang dapat dialami pula oleh mahasiswa manapun. Penanya terutama yang bukan seorang akademisi tentunya tidak akan merespon balik dengan membantu memanipulasi IP agar menjadi bagus, membantu mencari lahan pekerjaan dengan IP yang mungkin kurang bagus dan sebagainya yang berguna. Mereka hanya basa-basi dan ini harus dibungkam.

“Sudah pernah bedah mayat?”
Penulis menemukan pertanyaan ini adalah yang paling sering dilontarkan dan diulang-ulang. Semenjak penulis masuk ke jenjang klinik, penulis semakin bingung dengan pertanyaan ini.

Menurut pengalaman penulis, “mayat” dapat berupa kadaver sebagai sediaan praktikum anatomi atau mayat sebenar-benarnya mayat dalam pembahasan mata kuliah forensik. Praktikum anatomi sendiri bertujuan untuk mengenali organ-organ tubuh manusia dari ujung rambut sampe ujung kaki, sementara praktikum forensik lebih ditekankan kepada masalah-masalah yang dapat terjadi dalam tubuh manusia terutama dari aspek sebab kematian dan medikolegal. Anatomi menekankan kepada hapalan sementara forensik menekankan kepada analisa temuan dari tubuh manusia, baik dari dalam tubuh manusia maupun yang berasal dari luar tubuh.

Ada beberapa prosedur “bedah mayat”, dalam artian kadaver, untuk menyiapkan sediaan praktikum anatomi, seperti yang dilakukan sejawat Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang ketika mengikuti praktikum anatomi. Sementara di FKUI dan FK Universitas Trisakti Jakarta menurut pengalaman penulis, sediaan anatomi telah disiapkan untuk kemudian langsung dipelajari mahasiswa tanpa harus melakukan bedah mayat.

Persepsi lain yang penulis pikirkan adalah bedah mayat yang dimaksud adalah bedah kodok. Entah bila di fakultas kedokteran universitas lain, mahasiswa FKUI tahun pertama mengikuti mata kuliah Biologi Kedokteran yang juga mengadakan praktikum bedah kodok sebagai perkenalan dengan anatomi organ di dalam tubuh. Setiap sediaan ini disiapkan sendiri oleh mahasiswa sehingga dapat dibilang sebagai bedah mayat. Akan tetapi praktikum ini tampaknya sudah ditiadakan mengingat adanya kurikulum fakultas yang baru sejak tahun 2005 silam.

Praktikum dengan kodok juga digunakan dalam mata kuliah Fisiologi Kedokteran di FKUI, untuk mengamati gerak otot paha dari kodok yang juga untuk mendapatkan otot paha kodok, dilakukan bedah mayat kodok.

Bila pun dijelaskan perbedaan kadaver dengan mayat segar beserta tujuan mempelajari mayat-mayat tersebut kepada penanya, penulis meragukan mereka akan mengerti dan mendengarkan jawabannya. Bahkan ada penanya sinting yang bertanya, “kadavernya ada yang cantik gak?” yang menunjukkan bahwa penanya laik untuk dijauhi dan difitnah sebagai penggemar mayat ataupun nekrofilia.

“Sering lihat orang mati/kecelakaan?”
Menurut penulis, ini adalah pertanyaan yang dapat merusak hak pribadi para pasien dan mengusik kompetensi mahasiswa kedokteran. Sebagai dokter maupun mahasiswa yang bekerja di bangsal rawat inap maupun bangsal gawat darurat, adalah suatu rutinitas dan tak terelakkan untuk menghadapi pasien akibat kecelakaan maupun menghadapi kematian pasien baik karena keadaan gawat tak tertolong maupun telah melalui proses resusitasi.

Untuk tujuan apa penanya menanyakan hal tersebut? Si penanya akan bertanya penyebab kematian si pasien, tak sadar telah mencabik-cabikkan hak pribadi almarhum pasien beserta keluarganya yang sedang berduka. Pertanyaan ini sekaligus mengolok-olok seorang mahasiswa kedokteran, seolah-olah pengalaman yang telah dialami mahasiswa tersebut mengada-ada dan semata-mata demi basa-basi karena si penanya.menanyakan sesuatu yang sudah pasti.

“Kenal dengan si (masukkan sembarang nama)?”
Ini merupakan pertanyaan basa-basi paling universal sepanjang jaman. Teknik jual nama semata-mata untuk memvalidasi bahwa si penanya ingin dianggap dengan menanyakan seseorang yang juga berkuliah di fakultas yang sama dengan si tertanya ataupun rekaan semata atas nama basa-basi.

Dapat pula yang ditanyakan adalah nama-nama dokter/profesor yang beken misalnya yang sering muncul di televisi, padahal si penanya belum tentu memiliki hubungan komunikasi dengan dokter/profesor tersebut.

Dapat pula yang ditanyakan adalah nama-nama artis-artis yang berkuliah kedokteran seperti RN di FK Universitas Trisakti, JF di FKUI Internasional, T di bagian Ilmu Bedah FKUI dan sebagainya. Namun tetap saja si penanya hanya sebatas rakyat jelata, sama seperti penulis.

“Cewek-cewek/cowok-cowoknya cakep gak?”
Pertanyaan ini terbilang cukup universal dan basi, tetapi kemungkinan dari pertanyaan ini akan timbul proses perjodohan tidaklah jarang. Pertanyaan ini menurut penulis adalah satu-satunya pertanyaan basa-basi yang penting untuk terus diterapkan baik terhadap mahasiswa kedokteran maupun mahasiswa jurusan lain karena paling tidak pertanyaan ini dapat mengubah dialog monoton basa-basi menjadi ajang tukar menukar info yang seru dan menegangkan.

Saran
Akhir kata, penulis menyarankan kepada para penanya untuk bertanya hal yang lebih berbobot kepada mahasiswa kedokteran, sesuai pengalaman penulis, seperti:

* “Obat xxx isinya apa toh?”
* “Kulit kena cacar itu kan berbekas, bisa ilang cepet gak?”
* “Obat AIDS yang dapet gratis dari pemerintah, merknya apa aja sih?”
* “Diet itu harus berarti gak makan ya, mas?”
* “Lebih baik makan tomat langsung atau dibuat jus ya, mas?”
* “Obat jantung kok macam-macam ya, mas? Memang efeknya apa saja?”
* “Saya pengen ikut KB tapi lain waktu saya pengen hamil lagi, KB apa yang harus saya ikuti?”
* “Cewek-cewek/cowok-cowoknya cakep gak?”
* Dan sebagainya.

Janganlah malu untuk bertanya seputar masalah kesehatan kepada mahasiswa kedokteran walaupun mungkin si tertanya baru masuk tahun pertama. Dengan dihadapkan kepada pertanyaan yang pintar, walau maksudnya basa-basi pun, akan melatih kemampuan para mahasiswa kedokteran dan menghargai eksistensi kami. Anda pun harusnya bangga karena terlibat dalam proses pembelajaran kami, mahasiswa kedokteran, dengan bertanya.

sumber : http://fkui02.net/biawak/2008/10/07/pertanyaan-yang-lazim-dilontarkan-kepada-mahasiswa-kedokteran/

Popularity: 3% [?]

review buku : CADO – CADO Catatan Dodol Calon Dokter

By
 divi
divi on June 15th, 2008

ImageShack

beberapa bulan yang lalu gw beli buku dokter ngocol yang di tulis ama bang riva, seorang dokter mata gitu dey. lucu dan ngocol bgt sesuai ama judulnya, cuman kebanyakan tentang pembantunya gitu hehehe.. nah buku nya yang terbaru CADO – CADO Catatan Dodol Calon Dokter, sumpah lucu bgt.

ketika gw baca buku itu, awalnya aja dah sama banget ama yang biasa gw alamin.

tmn gw: ” div, lo kok masih kuliah aja siy, katanya dah wisuda??”

gw :”gw kan lagi koass sekarang”

tmn gw: “apaah tuh???? kenapa gak lgs jd dokter aja sih?? lama amat??”

gw :”"koass itu…….”

nah penjelasan itu bukan sekali atau dua kali gw jelasin ampe gw cape. nah di buku ini ada dengan detail apa definisinya.

bukan cuman itu aja, di tiap stase ceritanya juga mirip2 ama yang yg alamin, mulai di gencet ama senior ampe konsulen yang doyan tidur wekekekeke

baca bukunya bang riva dah kayak dejavu aja… ternyata koass dimana – mana sama aja yah bang!! wekekekeke

buat semua yang doyan baca buku2 yang kocak abis, gw sangat rekomen buku ini!!!! dan gw SANGT rekomen buat dokter2 ato calon dokter diluar sana bujat baca buku ini!!!! hehehehe

ps : seneng bgt deh gw di message ama bang ripa di FS, bang, jangan lupa tandatanganin bukunya buat gw dong!!!!!

Popularity: 1% [?]