Pertanyaan yang Lazim Dilontarkan kepada Mahasiswa Kedokteran
Bydivi on July 10th, 2008

disini divi mau share artikel yang menarik yang divi baca
7 tahun kuliah di fakultas kedokteran, Selama itu pula banyak pertanyaan yang dilontarkan kepada penulis, dan kepada semua mahasiswa kedokteran secara umum, dari orang-orang yang mungkin maksudnya basa-basi untuk membuka pembicaraan atau memang sebagai pertanyaan serius.
Pertanyaan seputar perkuliahan kedokteran ini dapat saja dilontarkan dari sanak saudara, teman-teman yang tidak berkuliah di fakultas kedokteran atau total stranger yang mengajak pembaca untuk ngobrol. Biasanya semua pertanyaan dan dialog ini diawali dengan pertanyaan, “Mbak/mas ini kuliah di mana ya?” dan setelah itu serentetan pertanyaan klise pun mulai digulirkan.
Para tulisan kali ini, penulis merangkum 10 pertanyaan yang pernah dilontarkan, paling tidak, kepada penulis dan berusaha memberikan penjelasan jawaban yang lazim.
Demikian diharapkan kepada para pembaca kaum sipil (nonfakultas kedokteran) dapat menemukan jawabannya dalam tulisan ini sehingga untuk kesempatan tatap muka berikutnya dengan seorang mahasiswa kedokteran, tidak perlulah lagi basa-basi dengan bertanya mengenai kehidupan kami sebagai mahasiswa kedokteran yang penuh kesibukan, romantika dan misteri ini.
“Kuliah di kedokteran? Pintar dong”
Pertanyaan ini biasanya didahului oleh jawaban “di kedokteran (masukkan nama universitas),” terhadap pertanyaan paling dasar, “kuliah di mana?”. Menurut pengalaman penulis, pertanyaan ini tergolong retorik dan sangat basa-basi karena pada kenyataannya tiada gading yang tak retak. Berkuliah di kedokteran bukan berarti orang tersebut pintar, mengingat definisi pintar itu luas sekali dan tidak semua orang pintar laik untuk berkuliah di kedokteran. Lagipula, dapat saja seseorang mengaku-ngaku berkuliah di fakultas kedokteran seperti pengalaman dari seorang narasumber, entah biar dianggap pintar atau berguna.
“Kuliah di kedokteran? Lama dong”
Lagi-lagi pertanyaan berupa pernyataan yang retorik dan menyiksa sanubari si tertanya. Semua orang terdidik sudah tahu bahwa kuliah kedokteran tergolong lama dibandingkan jurusan lain. Penulis tidak mengerti apa yang penanya harapkan dari si tertanya atas pertanyaan berupa pernyataan ini, apakah harus kesal, sumringah atau harus menampar penanya.
Bentuk pertanyaan serupa yang menyinggung lama perkuliahan seperti yang biasa dilontarkan kepada mahasiswa laki-laki, “kapan nikahnya?”. Sekali lagi ini pertanyaan ini menimbulkan pemikiran mengenai apa pentingnya pertanyaan ini. Apakah si penanya bermaksud mencarikan jodoh bagi si tertanya atau si penanya sedang bercermin kepada diri sendiri mengenai betapa lamanya pendidikan kedokteran, yang pasti ini merupakan pertanyaan retorik dan punya urusan apa si penanya bertanya mengenai hal pribadi macam ini.
“Sudah semester berapa?”
Sebenarnya pertanyaan ini tidak hanya dilontarkan kepada mahasiswa kedokteran saja, sehingga menurut penulis pertanyaan ini paling terkesan basa-basi.
Berbeda dengan nonfakultas kedokteran, FKUI termasuk dalam perkuliahan yang telah terjadwal tiap tahunnya, bukan tiap semesternya. Tiap tahun akan dijadwalkan mata kuliah yang pasti wajib diambil mahasiswa persetan dengan jumlah SKS-nya yang rerata per tahun adalah 48 SKS. Tidak ada semester pendek untuk perbaikan nilai dan “menyodok” agar cepat lulus. Hal serupa juga ditemukan pada fakultas kedokteran universitas lain.
Singkatnya, jadwal kuliah telah disusun untuk setahun dan cukup berbeda dibandingkan fakultas lain. Biasanya mata kuliah ini berjalan tidak secara paralel, misalnya mata kuliah B baru akan dimulai setelah mata kuliah A selesai. Pula tidak jarang satu mata kuliah masih berlangsung dalam 2 semester yang berbeda, misalnya mata kuliah C selama 12 minggu yang dilaksanakan pada akhir semester gasal dan selesai pada pertengahan semester genap, sehingga kadang tidak disertai libur antarsemester.
Mahasiswa kedokteran tentu akan malas menjawab mereka sudah kuliah di semester berapa, selain karena pendidikan kedokteran yang memakan waktu antara 5,5 – 6 tahun sehingga akan merepotkan bila dikonversi ke bentuk semester, juga karena rotasi mata kuliah itu sendiri dijadwalkan tidak dibagi per semester melainkan per tahun penuh.
Pelontar pertanyaan ini juga dapat dianggap sebagai orang yang tidak mengerti keadaan di fakultas kedokteran dan patut dimaklumi keawamannya. Walau demikian penulis menghargai mayoritas alumnus UI dari fakultas manapun karena mengetahui fakultas kedokteran, terutama FKUI, menjalankan sistem tahun, bukan semester sehingga pertanyaan basa-basi mereka menjadi, “Sudah kuliah tahun ke berapa?”
“Ambil jurusan apa?”
Karena pertanyaan ini sering timbul setelah pertanyaan, “Kuliah di mana?” atau “Fakultas apa?”, penulis sangat prihatin dan bingung dengan pertanyaan ini karena entah apa yang dipikirkan penanya sebelum menanyakan pertanyaan ini.
Sepertinya hampir semua orang terdidik mengerti bahwa pendidikan dokter umum rerata terdiri atas 4 tahun pendidikan sarjana kedokteran (S.Ked) dilanjutkan 2 tahun pendidikan profesi dokter untuk menjadi dokter umum (dr.) tanpa ada penjurusan karena ini adalah pendidikan dokter umum. Lantas apa yang mereka maksud dengan jurusan pada fakultas kedokteran? Memang di fakultas lain memiliki berbagai penjurusan dan peminatan, tetapi dalam konteks kuliah kedokteran, pertanyaan ini sangat amat menempatkan si penanya benar-benar sekadar basa-basi tidak peduli dengan jawabannya… dan terkesan bodoh.
“Ambil spesialis/spesialisasi apa?”
Pertanyaan ini merupakan usaha yang bagus untuk memperhalus kebodohan dalam berbasa-basi dibandingkan menanyakan jurusan kuliah tetapi perlu diketahui jenjang-jenjang pendidikan dokter seperti dijelaskan di atas. Untuk menjadi dokter spesialis, perlu lulus dokter umum dulu dan itu pun baru boleh setelah mengikuti berbagai prosedur misalnya mengikuti program pegawai tak tetap (PTT) sebagai dokter puskesmas di daerah-daerah atau di rumah sakit umum daerah.
Pertanyaan ini juga dilontarkan oleh orang-orang yang mengerti dengan kehidupan mahasiswa kedokteran terutama bagi mereka yang lebih menghargai eksistensi dokter spesialis dibandingkan dokter umum yang sebenarnya merupakan lini pertama dalam usaha kesehatan masyarakat.
Tetapi pertanyaan ini tentu saja aplikatif kepada mahasiswa pendidikan dokter spesialis sehingga penulis yang masih dalam pendidikan dokter umum, tidak berkompeten untuk menjabarkan pengalaman seputar hal ini.
“Berapa IP-nya?”
Sekali lagi, pertanyaan seputar Indeks Prestasi (IP) merupakan pertanyaan tidak penting dan sekadar basa-basi yang dapat dialami pula oleh mahasiswa manapun. Penanya terutama yang bukan seorang akademisi tentunya tidak akan merespon balik dengan membantu memanipulasi IP agar menjadi bagus, membantu mencari lahan pekerjaan dengan IP yang mungkin kurang bagus dan sebagainya yang berguna. Mereka hanya basa-basi dan ini harus dibungkam.
“Sudah pernah bedah mayat?”
Penulis menemukan pertanyaan ini adalah yang paling sering dilontarkan dan diulang-ulang. Semenjak penulis masuk ke jenjang klinik, penulis semakin bingung dengan pertanyaan ini.
Menurut pengalaman penulis, “mayat” dapat berupa kadaver sebagai sediaan praktikum anatomi atau mayat sebenar-benarnya mayat dalam pembahasan mata kuliah forensik. Praktikum anatomi sendiri bertujuan untuk mengenali organ-organ tubuh manusia dari ujung rambut sampe ujung kaki, sementara praktikum forensik lebih ditekankan kepada masalah-masalah yang dapat terjadi dalam tubuh manusia terutama dari aspek sebab kematian dan medikolegal. Anatomi menekankan kepada hapalan sementara forensik menekankan kepada analisa temuan dari tubuh manusia, baik dari dalam tubuh manusia maupun yang berasal dari luar tubuh.
Ada beberapa prosedur “bedah mayat”, dalam artian kadaver, untuk menyiapkan sediaan praktikum anatomi, seperti yang dilakukan sejawat Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang ketika mengikuti praktikum anatomi. Sementara di FKUI dan FK Universitas Trisakti Jakarta menurut pengalaman penulis, sediaan anatomi telah disiapkan untuk kemudian langsung dipelajari mahasiswa tanpa harus melakukan bedah mayat.
Persepsi lain yang penulis pikirkan adalah bedah mayat yang dimaksud adalah bedah kodok. Entah bila di fakultas kedokteran universitas lain, mahasiswa FKUI tahun pertama mengikuti mata kuliah Biologi Kedokteran yang juga mengadakan praktikum bedah kodok sebagai perkenalan dengan anatomi organ di dalam tubuh. Setiap sediaan ini disiapkan sendiri oleh mahasiswa sehingga dapat dibilang sebagai bedah mayat. Akan tetapi praktikum ini tampaknya sudah ditiadakan mengingat adanya kurikulum fakultas yang baru sejak tahun 2005 silam.
Praktikum dengan kodok juga digunakan dalam mata kuliah Fisiologi Kedokteran di FKUI, untuk mengamati gerak otot paha dari kodok yang juga untuk mendapatkan otot paha kodok, dilakukan bedah mayat kodok.
Bila pun dijelaskan perbedaan kadaver dengan mayat segar beserta tujuan mempelajari mayat-mayat tersebut kepada penanya, penulis meragukan mereka akan mengerti dan mendengarkan jawabannya. Bahkan ada penanya sinting yang bertanya, “kadavernya ada yang cantik gak?” yang menunjukkan bahwa penanya laik untuk dijauhi dan difitnah sebagai penggemar mayat ataupun nekrofilia.
“Sering lihat orang mati/kecelakaan?”
Menurut penulis, ini adalah pertanyaan yang dapat merusak hak pribadi para pasien dan mengusik kompetensi mahasiswa kedokteran. Sebagai dokter maupun mahasiswa yang bekerja di bangsal rawat inap maupun bangsal gawat darurat, adalah suatu rutinitas dan tak terelakkan untuk menghadapi pasien akibat kecelakaan maupun menghadapi kematian pasien baik karena keadaan gawat tak tertolong maupun telah melalui proses resusitasi.
Untuk tujuan apa penanya menanyakan hal tersebut? Si penanya akan bertanya penyebab kematian si pasien, tak sadar telah mencabik-cabikkan hak pribadi almarhum pasien beserta keluarganya yang sedang berduka. Pertanyaan ini sekaligus mengolok-olok seorang mahasiswa kedokteran, seolah-olah pengalaman yang telah dialami mahasiswa tersebut mengada-ada dan semata-mata demi basa-basi karena si penanya.menanyakan sesuatu yang sudah pasti.
“Kenal dengan si (masukkan sembarang nama)?”
Ini merupakan pertanyaan basa-basi paling universal sepanjang jaman. Teknik jual nama semata-mata untuk memvalidasi bahwa si penanya ingin dianggap dengan menanyakan seseorang yang juga berkuliah di fakultas yang sama dengan si tertanya ataupun rekaan semata atas nama basa-basi.
Dapat pula yang ditanyakan adalah nama-nama dokter/profesor yang beken misalnya yang sering muncul di televisi, padahal si penanya belum tentu memiliki hubungan komunikasi dengan dokter/profesor tersebut.
Dapat pula yang ditanyakan adalah nama-nama artis-artis yang berkuliah kedokteran seperti RN di FK Universitas Trisakti, JF di FKUI Internasional, T di bagian Ilmu Bedah FKUI dan sebagainya. Namun tetap saja si penanya hanya sebatas rakyat jelata, sama seperti penulis.
“Cewek-cewek/cowok-cowoknya cakep gak?”
Pertanyaan ini terbilang cukup universal dan basi, tetapi kemungkinan dari pertanyaan ini akan timbul proses perjodohan tidaklah jarang. Pertanyaan ini menurut penulis adalah satu-satunya pertanyaan basa-basi yang penting untuk terus diterapkan baik terhadap mahasiswa kedokteran maupun mahasiswa jurusan lain karena paling tidak pertanyaan ini dapat mengubah dialog monoton basa-basi menjadi ajang tukar menukar info yang seru dan menegangkan.
Saran
Akhir kata, penulis menyarankan kepada para penanya untuk bertanya hal yang lebih berbobot kepada mahasiswa kedokteran, sesuai pengalaman penulis, seperti:
* “Obat xxx isinya apa toh?”
* “Kulit kena cacar itu kan berbekas, bisa ilang cepet gak?”
* “Obat AIDS yang dapet gratis dari pemerintah, merknya apa aja sih?”
* “Diet itu harus berarti gak makan ya, mas?”
* “Lebih baik makan tomat langsung atau dibuat jus ya, mas?”
* “Obat jantung kok macam-macam ya, mas? Memang efeknya apa saja?”
* “Saya pengen ikut KB tapi lain waktu saya pengen hamil lagi, KB apa yang harus saya ikuti?”
* “Cewek-cewek/cowok-cowoknya cakep gak?”
* Dan sebagainya.
Janganlah malu untuk bertanya seputar masalah kesehatan kepada mahasiswa kedokteran walaupun mungkin si tertanya baru masuk tahun pertama. Dengan dihadapkan kepada pertanyaan yang pintar, walau maksudnya basa-basi pun, akan melatih kemampuan para mahasiswa kedokteran dan menghargai eksistensi kami. Anda pun harusnya bangga karena terlibat dalam proses pembelajaran kami, mahasiswa kedokteran, dengan bertanya.
sumber : http://fkui02.net/biawak/2008/10/07/pertanyaan-yang-lazim-dilontarkan-kepada-mahasiswa-kedokteran/
Popularity: 3% [?]




schizodhi Says: August 23rd, 2008 at 10:13 pm
Profesi kedokteran adalah profesi yang mulia. Sehingga jika seringkali saya ditanya ambil kuliah apa dan saya menjawab dengan kedokteran maka banyak masyarakat kemudian terus menunjukkan sedikit rasa lebih hormat, sekalipun saya lebih muda. So, jangan kotori titel dokter kalian kelak hanya dengan sesuatu yang konyolllll
Thanks, and mohon kerjasamanya….
Andika Says: August 24th, 2008 at 4:17 pm
He he,,,menarik cuman rada sak klek (kata orang jawa),klo aku mempunyai pikirin saperti itu, ketika selama aku belajar di perkualiahan teknik elektro ugm, aku akan berharap si penanya bilang :
1. kira2 untuk mengendalikan suhu tabung bayi itu sebaiknya menggunakan sistem kendali apa seh?
2. Kira2 respon sensor suhunya linier atau logaritmik?
3. Seberapa linierkah respon dari sebuah sistem kendali tersebut? apakah akan terjadi overdamped? crticaldamped? atau underdamped? nah kira2 mana yang paling stabil diantaranya?
4. Kira2 ratio errornya nya berapa persen? efisiensinya berapa persen?
5. Jika terjadi panas berlebih, apa yang akan akan dilakukan oleh sistem?
6. Dipandang Secara PID (Proportional Integral Deferential), kira2 sistem yang cocok untuk pengendalian tersebut masuk yang mana?
7. GImana cara menentukan pole zero dan axis dari kestabilan sistem tersebut?
8. Nah klo sistem gagal, kira2 apa yang akan terjadi pada bayi didalamnya?
tetapi pertanyaan yang kuharapakan selama aku kuliah itu belum pernah terlontar oleh orang awam tuh??? kenapa yah??? malah pertanyaanya,,,,,kamu kuliah dimana? jur apa? angkatan berapa? semester berapa? kenal sama si anu atau si ini gak?? wah pinter dunk bisa masuk tekenik elektro??? wah,,,,dan wah,,,,,
klo menurutku seh sangat wajar ketika kita mau memakluminya,,,,,toh klo mereka belum tau bisa kita kasi tau untuk bertanya yang tepat bukan??? bisa dengan menggiring pertanyaan tersebut jadi lebih baik bukan??? kuncinya, klo kita menyadari kelemahan diri kita dan kelemahan setiap individu lain, pasti kita akan memakluminya kok….:-)
Maaf, bukan bermaksud apa2,cuman tuker pikiran dan cara pandang aja kok,,,,he he
salam kenal aja dariku
wassalam
aulia Says: September 5th, 2008 at 2:50 pm
wah..seru kisahnya..dunia koass dimanamana kayaknya emang seru banget
salam kenal ya…
ni dari anak koass FK Unlam Bjm…
darkest Says: September 24th, 2008 at 5:42 am
cuma satu pesan ajah
kita sebagai manusia seharusnya lebih menghargai pertanyaan2 itu, karena kita hidup di tempat yang tidak semuanya mengetahui tentang apa “kedokteran” itu….
bukan malah mencacinya di balik layar
uzii Says: October 5th, 2008 at 11:04 am
sombong!
hehe x)
coba prtanyaan2 berbobot yg pngen “org awam” lontarkan itu JAWAB!!
dzulfikar zacky Says: October 10th, 2008 at 6:09 pm
wuih… kejam bgt….. sekalipun aq mahasiswa kedokteran, tp gak sampe tuh mikir kyk gt…
BIAWAK Says: October 30th, 2008 at 6:16 pm
terima kasih udah di-link balik… tapi tolong di-update post id-nya, udah berubah.
-BIAWAK
dozus: iy bos… dah dibenerin linknya
LPfans Says: October 31st, 2008 at 12:35 am
Hiduplah di duniamu sendiri, ngga usah keluar keluar lagi. Maka kamu tidak akan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan itu lagi.
Jangan lupa, bahwa kita selalu memerlukan orang lain. Dan belum tentu juga orang yang kau anggap bodoh itu tidak bisa menolong orang yang pandai
Syukurilah hidupmu, apapun keadaannya!!!
dozus: iy pak/bu, mungkin patut disadari sebagaimana packagingnya artikel ini (yang ditulis BIAWAK), tujuannya juga selain curhat juga memberikan unsur majas berlebih dan candaan… maaf jika memang menyinggung beberapa pembaca
Ali Bakri S.Ag Tuanku Khalifah Says: February 24th, 2009 at 12:36 pm
Salam Kenal Aja
mangsholeh Says: March 2nd, 2009 at 10:12 pm
@LPfans..
article ini dah pernah mang bc dulu..bc nya jg bikin ktawa2..hehe..krn emg dbwkan dng struktur kata yg lucu2,jg mengena bgt ma dunia kedokteran.
si penulis hanya bermaksud menampilkan sisi lucu dr dunia kedokteran.g ada maksud protes atau marah2.
jgn saklek gt deh…lihatlah dr kaca mata yg lain..oke!
mangsholeh Says: March 2nd, 2009 at 10:17 pm
1 lg tambahan..
kl ditanya yg terlalu canggih,n si mahasiswa g bs jawab. cara ngehindarnya adlh..”duuh…belajarnya blm nyampe situ..”
tp kalo dah lulus dokter yaa…g ad alasan dnk…!!hehe..
Glory2 MU Says: April 19th, 2009 at 8:38 pm
gw jg ank kedokteran, dan gw setuju dgn andika, menurt gw hargailah org2 yg bertanya seperti itu pada kita, toh mereka hanya org awam yg tidak mengerti apa yg mereka hrs tanyakan. jd wajarlah bila spt itu. jgn sampe org awam mencap anda sombong hanya krn melihat thread ini,sorry, no offense
adhen Says: June 5th, 2009 at 7:37 pm
yupZ aq stju, kdg orang dg pertnyaan ky gt bkin dri jd mrasa wah( tp emg ga berbo2t y,he)…tp dblik smua it plu prjuangan keras…
iRHoTeP Says: June 15th, 2009 at 12:18 pm
@Andika: terima kasih atas umpan baliknya. Sederhana saja, saya yang notabene mbikin artikel asli ini justru melayangkan artikel ini untuk menggiRing para penanya kepada pertanyaan yang lebih baik, mungkin dengan tulisan yang terkesan cynical tapi… you got the point lah
#iR#
fitri Says: June 29th, 2009 at 9:48 pm
kl mnrt gw shh… yang namany ni blog,yahh.. siapa pun sah2 saja utk mngluarkn pndpt… pnulis hanya brusaha utk mmbahas prtanyaan2 itu dr segi humorny, tanpa brmksd utk mnyinggung siapa pun…
wajar shh skolah 6 thn, dtanyain itu mulu…. bosen x… gw jg kadang cm bisa ktawa aja… iya,prtanyaan2ny itu2 mulu… palg prtanyaan, “kpn lulus?kpn jd dktr????”…
kl ada yg blng ni sombong ato apa,yahh brusaha +thinking aja… tau sndr kn sombong ma pe-de tuhh bedany tipis…
salut bwt pnulis… brani mmbahas hal2 sprti ini… smg ttp smngt mngamalkn ilmu qt…
romy Says: April 4th, 2010 at 2:51 pm
Saya juga mahasiswa kedokteran, menurut yang saya pahami, orang2 tersebut memiliki perasaan yang sama dengan kita. Semua juga memiliki sisi awam, memiliki pertanyaan awam.
Misalnya kalo ketemu astronot dari rusia. Yang biasa disebut kosmonot, kita bakal lontarkan pertanyaan2 awam juga pastinya. Misalnya sudah berapa kali ke luar angkasa? Meskipun kosmonot tersebut mengharapkan pertanyaan seperti berapa persen pengurangan tekanan oksigen saat keluar dari atmosfer dalam pesawat dan kembali ke bumi.. bla bla bla…
Intinya semua orang punya sisi awam.
Hanya pendapat dari sisi saya.
thx
dauzarash Says: April 21st, 2010 at 10:10 pm
slam knl dlu…pertanyaan2 di ats memang sering di lontarkan ke kita (jurusan/fakults kedokteran) alangkah baiknya jawab sebijak mungkin, kalo kita tidak bisa menjawabnya atau bahkan bagi kita itu menyinggung perasaan kita sebaiknya kita jawab dengan senyuman, karena mereka kadang tidak paham ttg kita, bgtu juga dengan teman2 ataupun saudara2 kita lainnya…jangan menunjukkan kesombongan dan ke angkuhan kita dan jangan merasa kita lebih hebat dari sipenanya…intinya keeping smile in everywhere n everytime…coz smile is a reward…
wedha Says: July 22nd, 2010 at 1:23 pm
waduhh….. kq divi koq bsa mikir smpe sono yy???
q jga mhsiswi FK tpi biasa ajh dey klo d’tx prtxan kya gtu….
wajarlah….. coz bkand bdngx mreka,…. msh syukur ad yg nx, brarti msh ad yg pduli sm q, dri pda g ad yg nx….hihiy
lge jg pz smt awal pzti ud dpt modul biopsikososiokultural (o iy univrsts q pke kuriklum KBK jdi bljrx prmodul gtoo), hrzx bsa positif thnkng dunkz, hrzx jga ud bsa aplikasiin teory empty smpati dkk….
q jga yakin g d org yg bodo d’muka bumi ny… mreka hx blom dpt ksmptan buat bljr dlmx mkax prtxaanx skedar surfacex kdokteran, sm ky mhswa kdoktran yg bru bljr fisiologi, so psti prtxan yg bkal dy lontarin k’dosenx cma sputr fisiologi ajhh khnn….
Indra Says: August 29th, 2010 at 10:15 am
Beberapa pertanyaan di atas bolehlah dianggap basa-basi yg tak bermutu tapi juga banyak yg tidak dapat dikatakan tidak bermutu. Orang Indonesia suka basa-basi, saya kira itu adat kita sebelum memulai pembicaraan lebih dalam. Menurutku, Anda terlalu sewot untuk pertanyaan yg sebenarnya tidak untuk merendahkan profesi anda. Atau dengan kata lain (maaf), Anda ingin dilihat oleh orang lain dari sisi “kedokteran-nya” saja karena mungkin itu lebih terhormat bagi Anda, padahal Anda juga seorang wanita/pria, mahasiswa, ibu (jika sudah punya anak). Sayangnya di luar sana Anda bergaul dengan banyak orang yg latar belakang profesinya berbeda sehingga hal yg wajar kalau mereka bertanya seperti itu. Yg tdk wajar jika sesama dokter bertanya ttg itu pada dokter lain.